Langsung ke konten utama

Keterampilan Dasar Mengajar (Teaching Skill)




            Keterampilan dasar mengajar (KDM) atau teaching skills merupakan kemampuan yang bersifat khusus (most spesific instructional behaviors). Keterampilan ini dapat menjawab pertanyaan pokok tentang how to each atau bagaimana membelajarkan siswa. dalam penilaian kinerja guru, keterampilan dasar mengajar biasa dijadikan salah satu indikator untuk menentukan derajat prestasi kerja guru.
Keterampilan dasar yang perlu dipelajari teacher trainee sebagai berikut.
1.      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
2.      Keterampilan menjelaskan
3.      Keterampilan mengadakan variasi
4.      Keterampilan memberikan penguatan
5.      Keterampilan bertanya
6.      Keterampilan mengelola kelas
7.      Keterampilan mengajar perorangan dan kelompok kecil
8.      Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil

A.    Keterampilan Membuka dan menutup pelajaran
            Menurut Hasibuan, dkk membuka pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi murid agar minat dan perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya (Suwarna et al., 2006:66). Keterampilan membuka dan menutup pelajaran dibutuhkan untuk membuat pembelajaran menjadi bermakna.
            Membuka pelajaran merupakan usaha untuk menciptakan prakondisi agar mental maupun perhatian siswa terpusat pada apa yang akan dipelajarinya. Kegiatan ini dibutuhkan tidak hanya pada awal pelajaran saja melainkan juga dapat dilakukan tiap penggal pelajaran, tiap penggal awal kegiatan, dan setiap kali beralih ke hal atau topik baru. Penggal awal kegiatan dalam proses pembelajaran, misalnya saat akan memulai kegiatan tanya jawab atau akan mengenalkan konsep baru.
            Kegiatan pada awal pelajaran ada yang termasuk membuka pelajaran dan ada pula yang bukan termasuk membuka pelajaran. Kegiatan yang termasuk membuka pelajaran: (1) menarik perhatian siswa; (2) memotivasi siswa; (3) memberi acuan/struktur pelajaran dengan menunjukkan tujuan kompetensi dasar dan indikator hasil belajar serta pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja, dan pembagian waktu; (4) mengaitkan antara topik yang sudah dikuasai dengan topik baru; (5) menanggapi situasi kelas. Kegiatan yang sering dilakukan pada awal pelajaran tetapi bukan termasuk membuka pelajaran, contohnya mengabsen siswa, meminta siswa membuka buku, dan menyampaikan pengumuman serta menyiapkan siswa.
            Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya untuk memusatkan perhatian sisw, tetapi juga untuk membantu siswa mengaitkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru dan mengetahui batas-batasnya. Menurut Suwarna et al (2006:66), keterampilan membuka pelajaran bertujuan untuk:
1.      Membantu siswa mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajarinya;
2.      Menimbulkan minat dan perhatian siswa pada apa yang akan dipelajari dalam kegiatan belajar mengajar;
3.      Membantu siswa untuk mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan;
4.      Membantu siswa untuk mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasainya dan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya.
      Ada empat komponen dalam membuka pelajaran. Keempat komponen utama yang dimaksud ialah sebagai berikut.
1.      Menarik perhatian siswa. Komponen menarik perhatian siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya menggunakan variasi gaya mengajar, menggunakan variasi media, dan menggunakan variasi pola interaksi.
2.      Menumbuhkan motivasi. Motivasi dapat muncul apabila pengajar mampu menciptakan kehangatan dan antusiasme dan memperhatikan minat siswa. Selain itu, motivasi bisa muncul apabila siswa memiliki rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu siswa dapat dibangkitkan dengan cara menunjukkan sesuatu hal baru yang membuat siswa penasaran. Motivasi juga bisa tumbuh dengan cara mengemukakan konsep yang bertentangan dengan siswa.
3.      Memberikan acuan. Pemberian acuan dalam proses membuka pelajaran bertujuan untuk menunjukan gambaran singkat mengenai topik yang akan dibahas. Acuan pelajaran dapat diberikan dengan mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas serta langkah-langkah pelaksanaan dan mengajukan sejumlah pertanyaan.
4.      Membuat kaitan. Penegtahuan siswa yang lama apabila dikaitkan dengan pengetahuan baru akan menciptakan kebermaknaan bagi siswa. cara mengaitkannya ialah bisa dengan mengajukan pertanyaan apersepsi dan mengulas singkat pelajaran yang lalu.
            Menutup pelajaran merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk menyimpulkan kegiatan inti. Kegiatan menutup pelajaran harus memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari, tingkat pencapaian siswa, dan tingkat keberhasilan guru. Kegiatan menutup pelajaran tidak hanya dilakukan pada setiap akhir pelajaran, tetapi juga dapat dilakukan pada setiap penggal akhir kegiatan atau setiap kali akan beralih ke hal atau topik baru. Menurut Mulyasa dan Hasibuan, dkk tujuan menutup pelajaran yaitu untuk:
1.      Mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran
2.      Menegatahui tingkat keberhasilan guru dalam membelajarkan pada siswa
3.      Membantu siswa untuk mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasainya dan hal-hal yang baru saja dipelajarinya (Suwana et al 2006:67).
            Komponen utama menutup pelajaran terdiri atas: meninjau kembali, mengevaluasi penugasan, dan memberikan tindak lanjut. Berikut penjelasannya.
1.      Meninjau kembali. pemahaman siswa mengenai hal-hal yang telah dipelajari ditinjau kembali untuk menegaskan pencapaian hasil belajar. Teacher trainee dapat meminta siswa membuat rangkuman atau ringkasan tentang materi yang sebelumnya telah dipelajari.
2.      Menegevaluasi siswa. setiap akhir penggal kegiatan, menutup pelajaran dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada siswa. macam-macam tugas yang dapat diberikan dapat berupa demontrasi, aplikasi konsep pada konteks lain, ekspresi pendapat pribadi dan tanya jawab serta pengerjaan soal-sola latihan.
3.      Memberi tindak lanjut. Tindak lanjut pembelajaran dapat diberikan dalam bentuk pekerjaan rumah, percobaan, atau kunjungan lapangan.
            Kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip yang menjadi pegangannya agar kegiatan tersebut dapat dilakukan secara efektif. Prinsip-prinsip kegiatan membuka dan menutup pelajaran:
1.      Bermakna
2.      Berurutan dan berkesinambungan
3.      Dilakukan pada setiap awal atau akhir topik.

B.     Keterampilan Menjelaskan
            Keterampilan mejelaskan merupakan keterampilan membuat permasalahan menjadi lebih jelas. Kegiatan menjelaskan memiliki tiga komponen, yaitu penyampaian pesan (sender), dan pesan (message). Keterampilan menjelaskan diperlukan untuk menanggulangi gangguan yang menyebabkan informasi tidak sampai secara utuh kepada siswa, misalnya ada beberapa siswa yang mengobrol di dalam kelas. Selain itu, informasi tidak sampai secara utuh kepada siswa bisa terjadi karena kemampuan siswa yang terbats. Iswa tidak dapat memahami materi secara langsung sehingga membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Marno dan M. Idris (2009: 133) mengemukakan tujuan penggunaan keterampilan menjelaskan dalam proses pembelajaran yaitu untuk:
1.      Membimbing pikiran siswa dalam memahami konsep, prinsip, dalil, dan hukum-hukum yang menjadi bahan pelajaran;
2.      Memperkuat struktur kognitif siswa yang berhubungan dengan bahan pelajaran
3.      Membantu siswa dalam memecahkan masalah
4.      Membantu memudahkan siswa dalam mengasimilasi dan mengakomodasikan konsep
5.      Mengkomunikasikan ide dan gagasan kepada siswa;
6.      Melatih siswa mandiri dalam mengambil keputusan
7.      Melatih siswa berpikir logis apabila penjelasan guru kurang sistematis.
      Penjelasan yang efektif harus direncanakan dengan matang dan disajikan dengan teknik-teknik yang tepat. Ada dua komponen menjalskan yaitu sebagai berikut.
a.       Perencanaan.
            Penjelasan perlu direncanakan dengan baik dengan memerhatikan isi materi dan kondisi siswa. isi materi perlu dianalisis terlebih dahulu apakah ada istilah-istilah yang sulit dipahami dan tidak. Isi materi perlu diketahui dengan jelas tetang hubungan di antara unsur-unsur, seperti perbedaan, sifat saling menunjang, dan sebab-akibat. Isi materi perlu diketahui dengan jelas apakah susunan materinya bersifat induktifatau deduktif. Selain itu, kondisi siswa perlu diperhatikan baik itu dari aspek usia, tugas perkembangan, jeis kelamin, kemampuan, kesiapan siswa, ketertarikan, latar beakang sosial budaya, bakat, maupun lingkungan belajar siswa.
b.      Penyajian penjelasan.
            Setelah dilakukan perencanaan, maka isi meteri perlu disajikan dengan teknik yang tepat agar mudah dipahami. Guru dapat menggunakan teknik menjelaskan dengan cara mengembangkan: orientasi/pengarahan, bahasa yang sederhana, penggunaan contoh atau ilustrasi, pemberian tekanan pada bagian-bagian pokok, dan penerimaan umpan balik dari siswa.
            Penjelasan yang baik ialah penjelasan yang berkesan atau bermakna bagi siswa. penjelasan yang bermakna dapat dilakukan apabila guru senantiasa memegang sejumlah prinsip-prinsip menjelaskan materi. Prinsip-prinsip menjelaskan materi, yakni sebagai berikut.
1.      Penjelasan diberikan pada awal, tengah, atau akhir yang tergantung pada keperluan atau dapat juga diselingi dengan tanya jawab.
2.      Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
3.      Penjelasan diberikan bila ada pertanyaan dari siswa atau direncanakan sebelumnya.
4.      Penjelasan materinya harus bermakna bagi siswa
5.      Penjelasan harus disesuaikan dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan siswa.

C.    Keterampilan mengadakan variasi
     Keterampilan mengadakan variasi merupakan keterampilan mengubah-ubah agar berbeda dari yang biasanya. Keterampilan ini cukup penting dalam pembelajaran untuk menghilangkan rasa jenuh atau bosan. Kegiatan mengadakan variasi memiliki sejumlah manfaat bagi siswa dan kualitas pembelajaran. Edi Soegito dan Yuliani Nurani (2003:4.5) mengungkapkan bahwa pengadaan variasi memiliki fungsi atau manfaat untuk:
1.      Mengurangi kebosanan siswa dalam mengikuti pelajaran
2.      Meningkatkan motivasi belajar siswa
3.      Memacu, mengembangkan, dan mengikat perhatian siswa pada pelajaran yang sedag mereka ikuti
4.      Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa pada hal-hal baru yang sedang dipelajari
5.      Menumbuhkan perilaku belajar positif pada diri siswa
6.      Meningkatkan partisipasi siswa dalam interaksi kegiatan pembelajaran
7.      Memperlancar dan menjelaskan komunikasi antara guru dan siswa. manfaat-manfaat tersebut dapat diperoleh apabila guru mampu mengadakan variasi secara efektif.
            Dalam pengajaran, aspek atau komponen yang perlu mendapatkan variasi ialah aspek gaya mengajar, aspek penggunaan alat indra, dan aspek interaksi pembelajaran.
a.       Variasi gaya mengajar. Variasi gaya mengajar mencakup suara guru, gerak, kesenyapan, perubahan posisi, pemusatan perhatian, dan kontak pandang. Suara guru sebaiknya jernih, jelas, dan berirama agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik. variasi mimik dan gerak badan dapat memperjelas penyampaian informasi dlaam mengajar sehingga materi pelajaran dapat diterima secara utuh. Kesenyapan diperlukan untuk menyegarkan kembali perhatian siswa. perubahan posisi digunakan untuk menjangkau seluruh bagian kelas sehingga semua siswa dapat dikendalikan. Pemusatan perhatian digunakan untuk mengarahkan perhatian siswa pada persoalan dalam pembelajaran. Pemusatan perhatian dapat bersifat verbal, nonverbal, dan kombinasi antara verbal dan nonverbal. Kontak pandang berguna untuk menimbulkan kesan mantap dengan apa yang sedang dibicarakan sehingga siswa menjadi yakin dnegan guru.
b.      Variasi penggunaan alat indra. Variasi penggunaan alat indra berfungsi untuk melayani perbedaan gaya belajar yang dimiliki siswa. gaya belajar siswa ada tiga macam, yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Variasi media pembelajaran dapat membantu siswa yang memiliki gaya belajar berbeda. Variasi penggunaan alat indra dilakukan dengan cara pengalihan dari satu alat indra ke alat indra yang lain. Semua alat indra baik indra penglihat, pencium, perasa, pendengar, maupun peraba dapat digunakan secara bergantian. Edi Soegito dan Yuliani Nurani (2003: 4.13) memberikan contoh pola penglihatan alat indra, yaitu sebagai berikut.
a.       Mendengarkan-melihat-mendengarkan. Misalnya, guru menjelaskan sambil menunjuk gambar di papan tulis, kemudian meneruskan penjelasannya kembali
b.      Melihat-mendengarkan-melihat. Misalnya, guru memperlihatkan gambar, mengomentarinya, dan menunjuk ke bagian gambar yang dimaksud.
c.       Mendengarkan-mencium-mendnegarkan. Misalnya guru menjelaskan perubahan sesuatu secara kimiawi, meminta siswa mencium bau contoh bahan bakar yang tersedia, dan melanjutkan penjelasannya kembali.
d.      Mencium-mendengarkan-mencium. Misalnya, guru menjelaskan secara lisan, menyilahkan kembali siswa mencium rempah-rempah itu.
e.       Mendengarkan-meraba-mendengarkan. Mislanya guru menjelaskan konsep tekstur, meminta siswa meraba berbagai kain, dan memberikan tamabahan.
f.       Meraba-mendengarkan-meraba. Mislanya guru mendnegarkan contoh tanah diikuti dengan penjelasan lisan, kemudian meminta siswa untuk lebih lanjut memeriksa contoh tanah itu kembali
g.      Mendengarkan-merasakan-mendengarkan. Misalnya guru menjelaskan rasa benda sambil menyuruh siswa untuk mengecap rasanya dengan ujung lidah, kemudian diteruskan dengan penjelasan lebih lanjut.
h.      Merasakan-mendengarkan-merasakan. Misalnya siswa mencicipi makanan untuk dapat menentukan teksturya, guru membicarakan hasil pengecapan itu, kemudian siswa dimintai mencicipi makanan itu kembali.
c.       Variasi interaksi pembelajaran. Variasi interaksi pembelajaran dapat mengubah bentul, kegiatan, atau suasana kelas sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan. Pengubahan pola interaksi harus memerhatikan jenis materi, tujuan pembelajaran, alat, dan media. Ada tiga macam interaksi, yaitu interaksi guru-kelompok siswa, interaksi guru-siswa, dan interaksi peserta-siswa. pola interaksi guru-kelompok siswa lebih didominasi oleh guru sehingga bersifat “teacher centered”. Pola interaksi guru-siswa bersifat personal dan dilakukan dua arah, sedangkan pola interaksi siswa-siswa bersifat “student centered”.
            Dalam mengadakan variasi, beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1.      Variasi hendaknya digunakan dengan maksud tertentu yang relevan dengan tujuan pembelajaran
2.      Variasi diberikan dengan penuh kehangatan dan antusiasme seorang pendidik.
3.      Penerapan keterampilan variasi harus dilakukan secra wajar dan tidak berlebih-lebihan.
4.      Variasi harus diguanakan secara lancar dan berkesinambungan serta fleksibel sehingga tidak merusak suasan kelas,
5.      Variasi direncanakan dengan baik. variasi yang baik ialah variasi yang dicantumkan secara eksplisit dalam rencana pengajaran.

D.    Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal, dan nonverbal, dengan prinsip kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respon yang negatif. Penguatan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian seperti bagus, tepat, bapak puas dengan hasil kerja kalian sedangkan nonverbal dapat dilakukan dengan geraan mendekati peserta didik, sentuhan, acungan jempol, dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan bertujuan untuk:
a.       Meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran
b.      Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar
c.       Meningkatkan kegiatan belajar, dan membina perilaku yang produktif.
Dalam melakukan penguatan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan guru yaitu sebagai berikut.
a.       Penguatan harus diberikan dengan sungguh-sungguh
b.      Penguatan yang diberikan harus memiliki makna yang sesuai dengan kompetensi yang diberi penguatan.
c.       Hindarkan respon negatif terhadap jawaban peserta didik.
d.      Penguatan harus dilakukan segera setelah suatu kompetensi ditampilkan.
e.       Penguatan yang diberikan hendaknya bervariasi.
E.     Keterampilan Bertanya
            Keterampilan bertanya dasar mencakup pertanyaan yang jelas dan singkat, pemberian acuan, pemusatan perhatian, pemindahan giliran, penyebaran pertanyaan (ke seluruh kelas, ke peserta didik tertentu, dan ke peserta didik lain untuk menanggapi jawaban), pemberian waktu berpikir, pemberian tuntunan (dapat dilakukan dengan mengungkapkan pertanyaan dengan cara lain, menanyakan dengan pertanyaan yang lebih sederhana, dan mengulangi penjelasan sebelumnya).
a.       Pertanyaan yang jelas dan singkat
      Pertanyaan perlu disusun secara jelas dan singkat, serta harus memperhitungkan kemampuan berpikir dan pendaharaan kata yang dikuasai peserta didik. Usahakan jangan sampai peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan, hanya karena tidak mengerti maksud pertanyaan yang diajukan atau karena pertanyaan yang panjang dan berbelit-belit.
b.      Memberi acuan
Sebelum mengajukan pertanyaan, guru mungkin perlu memberikan acuan berupa pertanyaan atau penjelasan singkat berisi informasi yang sesuai dengan jawaban yang diharapkan. Melalui acuan dimungkinkan peserta didik mengolah informasi untuk menemukan jawaban yang tepat.
c.       Memusatkan perhatian
Memusatkan perhatian dapat dilakukan dengan cara mengetuk meja, mengetuk papan tulis, dan tepuk tangan.
d.      Memberi giliran, dan menyebarkan pertanyaan.
Untuk melibatkan peserta didik semaksimal mungkin dalam pembelajaran, guru perlu memberi giliran dalam menjawab pertanyaan. Guru hendaknya berusaha agar semua peserta didik mendapat giliran dalam menjawab pertanyaa. Pelaksanaanya dipadukan dengan teknik penyebaran pertanyaan.
Terdapat perbedaan antara pemberian giliran dengan penyebaran. Pemberian giliran adalah satu soal djawab secara bergiliran oleh beberapa orang peserta didik, sedang penyebaran adalah beberapa pertanyaan yang berbeda disebarkan secara bergiliran dan dijawab oleh peserta didik yang berbeda,
e.       Pemberian kesempatan berpikir
Kesempatan berpikir diperlukan agar peserta didik  dapat merumuskan dan menyusun jawabannya. Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan dengan terlebih dahulu menunjuk peserta didik yang harus menjawabnya.
f.       Pemberian tuntunan
Dalam menjawab pertanyaan, mungkin peserta didik tidak dapat memberikan jawaban yang tepat, dalam hal ini hendaknya guru memberikan tuntunan menuju suatu jawaban yang tepat. Hal ini dapat dilakukan sebagai berikut.
1.      Mengulangi pertanyaan dengan cara lain dan bahasa yang lebih sederhana, serta susunan kata yang lebih mudah dipahami.
2.      Menawarkan pertanyaan lain yang lebih sederhana, dengan jawaban yang dapat menuntun peserta didik menemukan jawaban pertanyaan semula.
            Keterampilan bertanya lanjutan merupakan kelanjutan dari keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya lanjutan yang perlu dikuasai guru meliputi: pengubahan tuntunan tingkat kognitif, pengaturan urutan pertanyaan, pertanyaan pelacak, dan peningkatan terjadinya interaksi.
a.       Pengubahan tuntunan tingkat kognitif
            Guru hendaknya mengubah pertanyaan dari tingkat kognitif yang hanya sekedar mengingat fakta menuju pertanyaan aspek kognitif lain, seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b.      Pengaturan urutan pertanyaan
            Pertanyaan yang diajukan hendaknya mulai dari yang sederhana menuju yang paling kompleks secara berurutan. Jangan mengajukan pertanyaan bolak-balik dari yang mudah atau yang sederhana kepada yang sukar kemudian kepada yang sukar lagi.
c.       Pertanyaan pelacak
            Pertanyaan pelacak diberikan jika jawaban yang diberikan peserta didik masih kurang tepat. Sedikitnya ada tujuh teknik pertanyaan pelacak, yaitu klarifikasi, meminta peserta didik memberikan alasan, meminta kesepekatan pandangan, meminta ketepatan jawaban, meminta jawaban yang relevan, meminta contoh, dan meminta jawaban yang lebih kompleks.
F.     Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
            Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah. Terdapat hal-hal yang harus diperhatikan dalam membimbing diskusi sebagai berikut.
a.       Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dn topik diskusi
b.      Memperluas masalah atau urunan pendapat
c.       Menganalisis pandangan peserta didik
d.      Meningkatkan partisipasi peserta didik
e.       Menyebarkan kesempatan berpartisipasi, dan
f.       Menutup diskusi
G.    Mengelola Kelas
            Pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran. Beberapa prinsip yang harus diperhatika dalam pengelolaan kelas sebagai berikut.
a.       Topik yang sesuai
b.      Pembentukan kelompok secara tepat
c.       Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat berpartisispasi secara akfit.
H.    Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
            Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
            Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut.
a.       Mengembangkan keterampilan dalam pengorganisasian dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.
b.      Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi, dan interaksi pembelajaran.
c.       Perencanaan penggunaan ruangan.
d.      Pemberian tugas yang jelas, menantang, dan menarik.
      Khusus dalam melakukan pembelajaran perorangan, perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berpikir peserta didik agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.

I.       Daftar Pustaka
Barnawi & Arifin, M. 2015. Micro Teaching Teori & Praktek Pengajaran Yang     Efektif dan Kreatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Mulyasa. 2013. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Komentar